Jumat, 03 Mei 2013

pontianak-area



SEMARAKNYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DI INDONESIA
A.    Pendahuluan
            Sudah tidak asing lagi ketika kita mendengarkan tawuran antar pelajar di negeri ini,pendidikan yang seharusnya meciptakan manusia yang bermoral tetapi  justru mendidikan manusia yang brutal. Pendidikan tidak lagi dijadikan sarana untuk menciptakan mansia yang bisa diharapkan untuk memajukan bangsanya, justru pendidikan menjadi sarana belajar bagaimana menghancurkan bangsanya.
            Tawuran antar pelajar disana-sini kerap kali terjadi terutama dijakarta yang merupakan ibu kota negara kita, tawuran yang sering kali menjatuhkan korban bahkan orang yang tidak bersalahpun menjadi korban dari tawuran tersebut. Kasus semacam ini bisa kita peroleh dari berbagai media baik cetak maupun media massa. Berbagai diskusi ilimiyahpun dilakukan oleh berbagai kalangan baik aktivis maupun masyarakat pada umumnya. Sehingga perdebatan sengitpun juga sering kali memicu terjadi konflik.
            Dalam pendidikan kita diajarkan bagaimana bersikap, bertindak atau dalam sistem pendidikan kita dikenal dengan sistem pendidikan moral, dalam pendidkan moral ini semua peserta didik akan diajarkan bagaimana sikap mereka terhadap orang tua, guru, teman dan lain sebagainya, pendidikan yang demikian telah diajarkan oleh setiap guru di setiap sekolah namun mengapa pendidikan yang demikian tidak memberikan kesadaran moral kepada mereka para peserta didik? Dan mengapa yang kerap kali terjadi konflik justru mereka yang belajar di sekolah-sekolah vaforit seperti yang terjadi di SMA negeri 6 dan SMA negeri 70 jakarta selatan beberapa pekan yang lalu? Dan mengapa kita hampir tidak pernah mendengar ada tawuran yang terjadi antar sekolah aliyah di pesantren?
            Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah segelintir pertanyaan mengenai isu-isu pendidikan yang saat ini seakan-akan tidak begitu diperdulikan oleh pemerintah. Saya berani berkata demikian karena fakta telah berkata demikian misalnya saat ini banyak kita peroleh berita di berbagai media yang mengungkapkan bahwa dana ujian nasional belum cair. Hal adalah sedikit dari sekian fakta bahwa pemerintah tidak perduli dengan pendidikan di negeri ini. Karenajika memang mereka peduli dengan pendidikan pastinya dana yang sudah dianggarkan oleh badan legislatifsegera dicairkan oleh pemerintah sehingga hal ini tidak menjadi kendala dalam jalannya ujian saat ini.    
            Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat krusial mengingat pendidikan adalah sumber utama dalam menciptakan manusia-manusia yang nanti bisa memajukan bangsanya, sehingga pendidikan seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah sehingga pendidikan bisa bagian yang paling utama dalam meningkatkan pembangunan di indonesia. Sejauh ini pendidikan  di negara kita masih sangat minim terutama dalam mengkader insan-insan yang yang menjadi kebanggaan bangsa kita. Hal menunjukan bahwa peran pemerintah untuk memjukan pendidikan di negara kita masih sangat minim atau bahkan tidak berperan sama sekali. Padahal pendidikan sangat memerlukan peran pemerintah untuk memajukan negara kita. Pendidikan adalah alat pemerintah untuk memajukan bangsanya bukan  malah sebaliknya yaitu menjadi musuh sebagaimana pada masa-masa orde baru.sehingga dalam hal ini perlu kiranya megingat kembali tentang tujuan dan cita-cita bangsa terkait mengenai pendidikan, diamana ditujukan untuk memndidik manusia yang cardas dan beradab. Maka tidaklah sesuai pendidikan yang hanya mengkader manusia yang cerdas namun tidak berdab, maka kaitannya dengan hal ini pendidikan moral ataupun akhlak dalam istilah agamanya adalah sangat penting guna mencapai cita-cita dan tujuan pendidikan yang telah tertuang dalam undang-undang negara kita.
B.     Pendidikan VS tawuran

            Pendidikan secara singkat adalah sarana dalam upaya memperoleh pengetahuan, sehingga pengetahuan ini tidak hanya kita peroleh pada lembaga-lembaga formal dalam hal ini sekolah tetapi juga kita peroleh pada lembaga-lemabaga non-formal seperti pesantren atau di tempat-tempat kususan. Menurut beberapa tokoh misalnya john dewey mendefinisikan pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia[1]. Sedangkan dalam undang-undang negera kita misalnya Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.[2] Demikian juga Menurut UU No. 20 tahun 2003Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.[3]

            Di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."
            Tawuran bisa kita samakan demakan dengan konfilik dimana secara sederhana konflik adalah perselisihan, peperangan antara dua orang atau lebih untuk memperoroleh kekuasaan atau kepuasan. Menurut simmel konflikadalah suaatu bentuk interaksi di mana tempat , waktu serta intensitas dan lain sebaginya tunduk pada perubahan, sebagaimana segi tiga dapat berubah.[4] Dia juga berpendapat bahwa konflik bersifat endemis  di setiap interaksi manusia dan dapat dijumpai di semua tempat dalam kehidupan sehari-hari.[5] Para pakar lain bahkan menyebutkan bahwa adanya konflik mungkin justru diperlukan agar masyarakat agar masyarakattetap berjalan.[6]
            Secara sederhana pendidikan dan tawuran atau konflik dapat kita fahami sebagai dua kata yang sangat bertentangan atau bertolak belakang antara yang satu dengan yang lainnya. Dimana pendidikan berusaha untuk menciptakan manusia yang cerdas dan bermoral tetapi teori konflik menganggap konflik itu dibutuhkan untuk memperkuat hubungan masyarakat sehingga masyarakat tetap berjalan. Bahakan konflik menjadi proses yang bersifat intrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kolompok. Konflik dengan kelompok lain dapat daopat m memperkuat kembali identitas kelompok.[7]
C.      Faktor terjadinya konflik
            Faktor yang menjadi pemicu terjadi konflik antar para pelajar sebagaimana yang dapat kita temui di negeri ini, bukanlah hal yang anek bagi kita karena kasus semacam ini sudah sering kali terjadi. Kasus yang perkalihan antara pelajar dengan pelajar menunjkan bahwa pendidikan tersebut tidak begitu memperhatikan pendidikan moral atau pendidikan akhlak, terutama ketika melihat karep kali yang melakuka konflik bukanlah dari kalangan orang-orang yang belajar di sekolah-sekolah sederhana akan tetapi mreka adalah para pelajaryang motabeninya adalah mereka sekolah sekolah-sekolah favorit. Selain itu kitahampir rtidak pernah melihat konflik yang terjadi antara sekolah madarasah atau pesantren. Disinilah timbul pertanyaan sebagai mana tersebut di atas mengapa yang sering kali terjadi konflik  itu justru mereka yang belajar di sekolah-sekolah faviorit? Melihat kenyataan yang demikian maka sangat perlu sekali foktor-faktor apa yang menjadi pemicu terjadi konflik antar pelajar ini. Dimana faktor ini sangaterat sekali kaitannya dengan pendidikan moral atau pendidikan akhlak.
Ada beberapa hal yang menjadi faktor tawuran antar pelajar antara lain :
a.       Krisis moral
Krisis moral menjadi faktor yang paling mendominasi terjadi konflik, hal ini karena moral yang akan membentuk keperibadian seseorang bagaimana seharusnya mereka berprilaku, bertindak dan bersikap, dan hal itu semua dipelaajari dalam pendidikan moral, karena moral adalah salah hal yang sangat krusial maka hal ini harus disadari oleh semua para pengajar untuk menggalakkan pendidikan moral ini, begitu pula dengan pendidikan agama, karena kedalaman pendidikan agama seseorang juga akan mempengaruhi perilaku dan moral seseorang. Dan ketika kita melihat yang sering kali terjadi konfli adalah para pelajar yang belajar di bangku-bangku yang mewah atau di sekolah-sekolah favorit maka kita mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterapkandi lembaga tersebut sangatlah kurang perhatiannya dalam pendidikan moral apalagi pendidikan agama.
Pendidikan agama tidak boleh dipandang sebelah mata saja oleh pemerintah sehingga yaitu dengan memepersempit waktu belajar agama, padahal kita tahu bahwa pendidikan agama juga sangat penting untuk menyukseskan cita-cita dan tujuan pendidikan di negara kita yaitu menciptakan manusia yang cerdas dan beradab. Apakah pendidikan bisa di katakan sukses sesuai undang-undang jika kenyataanya ternyata demikian, memang secara intlektual mungkin pendidikan ng ada di indonesia bisa ditakan sukses namun secara moral pendidikan yang justru sangatlah tidak adil untuk apa kemampuan intelektual tinggi jika hal itu hanya menjadi sarana untuk merusakan negara kita sendiri. Oleh karena maka pendidikan moral dan pendidikan agama sangatlah penting untuk menjadi perhatian pemerintah, karena jika tidak para maka suatu hari nanti para pelajar atau siswa akan menjadi musuh  pemerintah sendiri secara khusus dan kita semua pada umumnya.
Dan apabila gejolak ini kita lihat dari perspektif agama, maka kita akan mendapatkat pada pendapat  yang sama bahwa berbagai krisis yang menimpa bangsa kita , sesungguhnya berakar dari krisis moral (moral).
Krisis akhlak bukanlah hal yang sepele. Tetapi ia sangat berbahaya dan megancam eksistensi kit sebagai umat dan bengsa. Krisis akhlak lebih berbahaya dibandingkan dengan krisis energi, listrik , pangan , dan berbagai krisis lainnya.[8] Dan ketika kita menuleh pada sejarah diutusnya nabi muhammad saw kedunia tidak lain  adalah hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka dalam ajaran islam pendidikan akhlak sangatlah digalakkan terutama dipesantren-pesanren yang ada di dunia terutama indonesia.
Kekuatan bangsa sangat dipengarhi oleh kekuatan akhlak. Sejarawan Arnold Toynbe, dalam risetnya, membuktikan kebenaran tesis ini. Ia pernah,  meneliti lebih dari 21 peradaban yang hebat  di dunia ternyata, diketahui 19 dari 21 peradaban ini itu musnah (runuh). Ia runtuh bukan karena penaklukan dari luar, meleinkan melalui kerusakan moral dari dalam. Maka, krisis akhlak harus dicegah dengan melakukan perbaikan akhlak bangsa. Secara teori perbaikan alkhlak dapat dilakukan dengan beberapa usaha. Pertama, menumbuhkan kometmen etis, yaitupemihakan yang kuat pada beberapa kebenaran dan kebaikan. “surga dipagari oleh hal-hal yang susah, sedangkan neraka dihiasi oleh kesenangan-kesenangan”.
Kedua, berlatih dan melakukan pembiasaan diri pada akhlak yang baik. Al-ghazali, menyebutnya dengan istilah al-takhalluq. Dalam bahasa modern, takhalluq brmakna membangun kebiasaan (habit) dan watak (karakter) yang baik. Dan proses takhalluq membutuhkan waktu dan disiplin yang ketat.[9]
b.      Krisis nurani
            Selain krisis moral yang menjadi pemicu terjadinya tawuran dan beberapa konflik yang terjadi, krisis nurani adalah juga merupakan salah dari bagian pemicu terjadi konflik. Krisis nurani erat kaitannya dengan pendidikan agama seseorang, dimana pendidikan agama ikut andil dalam membentuk nurani seseorang. Kelunakan hati seseorang perlu dilatih sedini mungkin, sehingga ketika terjadi masalah bukanlah kekuatannya yang akan dipergunakan utuk menyelesaikan konflik atau masalah yang dihadapinya, sebagaimana binantang. Melainkan dengan akalnya sebai kelebihan dan keunikan manusia. Keadaan mental yang demikian Sebagaimana ibnu khaldun menyebutkan keadaan mental ini sebagai bentuk dari  animal powe. Bentuk manusia namun cara menyelesaikan konflik sepeti hewan. Yaitu menggunakan kekuatan dan cakar .[10]
            Kita sudah mengalami krisis narani sebagai manusia. Suatu keadaan mental yang haya mengetahui cara menyingkirkan dan membunuh orang lain tatkala konflik muncul.[11] keadaan yang demikian sudah menjadi kelumrahan dalam hidup kita, cara menyesaikan konflik dengan otot sudah sangat sering kita saksasikan hal ini yang menurut ibnu kaldun cara manusia menyesaikan konflik seperti binatang. Padahal allah telah mengangrahi manusia dengan nurani, kalbu, dan akal sehat, agar manusia itu berbeda dari hewan. Agar manusia bisa bisa menciptakan perdamaian dan keselamatan.[12]
            Konflik antar siswa selain menjadi salah satu bukti kegagalan dari pendidikan kita, pendidikan juga gagal menanamkan kenuranian pada segenap siswa. Tawuran merupakan gambaran bahwa siswa yang terlibat dalam tawuran tersbut tidak memiliki hati nurani. Itu artinya kurangnya perhatian guru pada siswanya mengenai pendidikan agama atau pendidikan moral.
            Keadaan sudah sangat kritis ini, semangkin diperparah oleh pemerintah dengan pengurangi waktu belajar agama. Apakah pemerintah tidak menyadari kalau bentrok antar siswa bukalah karena mereka tidak berpendidikan, tetapi justru karena kepinteran mereka yang sudah keterlaluan, sehingga mereka tidak memiliki moral dan hati norani. Pemrintah dan kita semua harus tanggap mengenai masalah yang seperti ini. Sehingga kedepannya fenomina yang serupa tidak terjadi lagi.
            Memang teori yang digunakan dalam makalah ini adalah teori konflik yang mana dalam teori konflik menyebutkan bahwa konflik adalah keadaan yang alamiyah yang pasti akan terjadi dalam kehidupan manusia, sehingga konflik sangat dubutuhkan sekali demi memperkuat identitas kelompok atau dalam istilah yang sering digunakan oleh siswa adalah geng.
            Dalam hal ini Coserpun sebagai tokoh konflik juga berpendapat bahwa konflik itu tidak hanya berwajah negatif. Konflik memliki fungsi positif terhadap masyarakat melalui perubahan-perubaha sosial yang diakibatkannya.[13] Pendapat yang demikian memang didasarkan pada fakta yang menujukan bahwa banyak kasus sejarah,  sesungguhnya penyatuan (dari sistem sosial ) dipengaruhi oleh faktor posistif konflik.[14] Tetapi konflik yang terjadi antar para pelajar itu wajar dan bisa memperkokoh kelompoknya atau gengnya? Terus untuk apa mereka belajar ilmu jika ada akhirnya ilmu yang diperoleh digunakan untuk merusak, mengahancurkan bahkan mmbunuh. Apa yang diharapkan oleh siswa yang melakukan tawuran selain hanya untuk merusak, mengambil hak orang lain dan lain sebagainya. Karena saya kira tawuran antar siswa merupakan tawuran yang sifatnya nonrealistis sebagai mana yang dikatakan oleh coser , yaitu konflik yang didorong oleh kinginan yang tidak rasional dan cendrung bersifat ideologis atau konflik dijadikan cara untuk menciptakan ketegangan atau mempertegas identitas kelompok, dan cara ini mewujudkan  kekejian.[15]
c.       Ketidakhadiran kelola konflik
Selain karena krisis nurani yang membuat manusia bermental animal poewr,  ketidak hadiran tata kelola konflik dalam sistem sosial menyebabkan berbagai konflik menggelinding liar menjadi destruktif tanpa kendali.[16] Tata kelola  konflik ini sangatlah penting demi menghindari dari konflik yang sering kali hanya berkonotasi desruktif. Diharapkan dengan tata kelola konflik yang baik konflik tidak berkonotasi negatif tetapi hal yang sangat dibutuhkan untuk meningkat kualitas belajar, tetapi faktanya hingga kini negara kita belum begitu peka dengan masalah ini, maka sering kali tata kelola koflik ini tidak diperdulikan bahkan diabaikan.
Negara kita ini belum memiliki tata kelola konfli bagi masyarakatnya yang faktanya rentan sekali terjadi konflik. Tata kelola konflik ini diabaikan oleh negara sebagai unsusr penting dalam pembangnan perdamaian. Suatu peratuaran perundangan pengelolaan konflik sebagai fonadasi legal menciptakan sistem tata kelola konflik masih bukan merupakan prioritas negara. Sebaliknya, petundangan yang tidak bersubtansi bagi bangsa, hasil lobi –lobi pasar, dan tidak memiliki nilai keadilan sosial menjadi prioritas.[17]









Daftar pustaka

Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih bahsa oleh Tim Yasogama, jakarta : rajawali pers, 2010, hal. 107.
Ken Plummer, “Sosiologi  The Besics” (jakarta : rajawali pers, 2011), hal. 46
http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/08/mepi3r-krisis-moral.
Novri Susan, MA, “ sosiologi koflik isu-isu konflik kontemporer”, (jakarta : kencana, 2009), cet. Ke-1, hal. 197



[1] . http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
[2] .Ibid          
[3]. http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
[4] . Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih bahsa oleh Tim Yasogama, jakarta : rajawali pers, 2010, hal. 107.
[5] .  Ken Plummer, “Sosiologi  The Besics” (jakarta : rajawali pers, 2011), hal. 46
[6] . ibid.
[7] .. Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih bahsa oleh Tim Yasogama, ( jakarta : rajawali pers, 2010), hal. 107.

[8] . http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/08/mepi3r-krisis-moral.
[9] . ibid.
[10] .Novri Susan, MA, “ sosiologi koflik isu-isu konflik kontemporer”, (jakarta : kencana, 2009), cet. Ke-1, hal. 197
[11] .ibid.
[12] . ibid.
[13] . ibid, hal. 53-54
[14] . Ibid, hal. 54
[15] . ibid, hal. 55
[16]. Ibid, hal. 198
[17] .ibid,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar