SEMARAKNYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DI INDONESIA
A.
Pendahuluan
Sudah tidak asing lagi ketika kita
mendengarkan tawuran antar pelajar di negeri ini,pendidikan yang seharusnya
meciptakan manusia yang bermoral tetapi
justru mendidikan manusia yang brutal. Pendidikan tidak lagi dijadikan
sarana untuk menciptakan mansia yang bisa diharapkan untuk memajukan bangsanya,
justru pendidikan menjadi sarana belajar bagaimana menghancurkan bangsanya.
Tawuran antar pelajar disana-sini
kerap kali terjadi terutama dijakarta yang merupakan ibu kota negara kita,
tawuran yang sering kali menjatuhkan korban bahkan orang yang tidak bersalahpun
menjadi korban dari tawuran tersebut. Kasus semacam ini bisa kita peroleh dari
berbagai media baik cetak maupun media massa. Berbagai diskusi ilimiyahpun
dilakukan oleh berbagai kalangan baik aktivis maupun masyarakat pada umumnya.
Sehingga perdebatan sengitpun juga sering kali memicu terjadi konflik.
Dalam pendidikan kita diajarkan
bagaimana bersikap, bertindak atau dalam sistem pendidikan kita dikenal dengan sistem
pendidikan moral, dalam pendidkan moral ini semua peserta didik akan diajarkan
bagaimana sikap mereka terhadap orang tua, guru, teman dan lain sebagainya,
pendidikan yang demikian telah diajarkan oleh setiap guru di setiap sekolah
namun mengapa pendidikan yang demikian tidak memberikan kesadaran moral kepada
mereka para peserta didik? Dan mengapa yang kerap kali terjadi konflik justru
mereka yang belajar di sekolah-sekolah vaforit seperti yang terjadi di SMA
negeri 6 dan SMA negeri 70 jakarta selatan beberapa pekan yang lalu? Dan
mengapa kita hampir tidak pernah mendengar ada tawuran yang terjadi antar
sekolah aliyah di pesantren?
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah
segelintir pertanyaan mengenai isu-isu pendidikan yang saat ini seakan-akan
tidak begitu diperdulikan oleh pemerintah. Saya berani berkata demikian karena
fakta telah berkata demikian misalnya saat ini banyak kita peroleh berita di
berbagai media yang mengungkapkan bahwa dana ujian nasional belum cair. Hal
adalah sedikit dari sekian fakta bahwa pemerintah tidak perduli dengan
pendidikan di negeri ini. Karenajika memang mereka peduli dengan pendidikan
pastinya dana yang sudah dianggarkan oleh badan legislatifsegera dicairkan oleh
pemerintah sehingga hal ini tidak menjadi kendala dalam jalannya ujian saat
ini.
Masalah pendidikan adalah masalah
yang sangat krusial mengingat pendidikan adalah sumber utama dalam menciptakan
manusia-manusia yang nanti bisa memajukan bangsanya, sehingga pendidikan
seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah sehingga pendidikan bisa bagian
yang paling utama dalam meningkatkan pembangunan di indonesia. Sejauh ini
pendidikan di negara kita masih sangat
minim terutama dalam mengkader insan-insan yang yang menjadi kebanggaan bangsa
kita. Hal menunjukan bahwa peran pemerintah untuk memjukan pendidikan di negara
kita masih sangat minim atau bahkan tidak berperan sama sekali. Padahal
pendidikan sangat memerlukan peran pemerintah untuk memajukan negara kita.
Pendidikan adalah alat pemerintah untuk memajukan bangsanya bukan malah sebaliknya yaitu menjadi musuh
sebagaimana pada masa-masa orde baru.sehingga dalam hal ini perlu kiranya
megingat kembali tentang tujuan dan cita-cita bangsa terkait mengenai
pendidikan, diamana ditujukan untuk memndidik manusia yang cardas dan beradab.
Maka tidaklah sesuai pendidikan yang hanya mengkader manusia yang cerdas namun
tidak berdab, maka kaitannya dengan hal ini pendidikan moral ataupun akhlak
dalam istilah agamanya adalah sangat penting guna mencapai cita-cita dan tujuan
pendidikan yang telah tertuang dalam undang-undang negara kita.
B.
Pendidikan
VS tawuran
Pendidikan secara singkat adalah sarana dalam upaya memperoleh pengetahuan, sehingga pengetahuan ini tidak hanya kita peroleh pada lembaga-lembaga formal dalam hal ini sekolah tetapi juga kita peroleh pada lembaga-lemabaga non-formal seperti pesantren atau di tempat-tempat kususan. Menurut beberapa tokoh misalnya john dewey mendefinisikan pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia[1]. Sedangkan dalam undang-undang negera kita misalnya Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.[2] Demikian juga Menurut UU No. 20 tahun 2003Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.[3]
Di
dalam UU Nomor 2 tahun 1989
secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu "Mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan."
Tawuran
bisa kita samakan demakan dengan konfilik dimana secara sederhana konflik
adalah perselisihan, peperangan antara dua orang atau lebih untuk memperoroleh
kekuasaan atau kepuasan. Menurut simmel konflikadalah suaatu bentuk interaksi
di mana tempat , waktu serta intensitas dan lain sebaginya tunduk pada
perubahan, sebagaimana segi tiga dapat berubah.[4]
Dia juga berpendapat bahwa konflik bersifat endemis di setiap interaksi manusia dan dapat
dijumpai di semua tempat dalam kehidupan sehari-hari.[5]
Para pakar lain bahkan menyebutkan bahwa adanya konflik mungkin justru
diperlukan agar masyarakat agar masyarakattetap berjalan.[6]
Secara
sederhana pendidikan dan tawuran atau konflik dapat kita fahami sebagai dua
kata yang sangat bertentangan atau bertolak belakang antara yang satu dengan
yang lainnya. Dimana pendidikan berusaha untuk menciptakan manusia yang cerdas
dan bermoral tetapi teori konflik menganggap konflik itu dibutuhkan untuk
memperkuat hubungan masyarakat sehingga masyarakat tetap berjalan. Bahakan
konflik menjadi proses yang bersifat intrumental dalam pembentukan, penyatuan
dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan dan menjaga garis
batas antara dua atau lebih kolompok. Konflik dengan kelompok lain dapat daopat
m memperkuat kembali identitas kelompok.[7]
C. Faktor terjadinya konflik
Faktor yang menjadi pemicu terjadi
konflik antar para pelajar sebagaimana yang dapat kita temui
di negeri ini, bukanlah hal yang anek bagi kita karena kasus semacam ini
sudah sering kali terjadi. Kasus yang perkalihan antara pelajar dengan pelajar
menunjkan bahwa pendidikan tersebut tidak begitu memperhatikan pendidikan moral
atau pendidikan akhlak, terutama ketika melihat karep kali yang melakuka
konflik bukanlah dari kalangan orang-orang yang belajar di sekolah-sekolah
sederhana akan tetapi mreka adalah para pelajaryang motabeninya adalah mereka
sekolah sekolah-sekolah favorit. Selain itu kitahampir rtidak pernah melihat
konflik yang terjadi antara sekolah madarasah atau pesantren. Disinilah timbul
pertanyaan sebagai mana tersebut di atas mengapa yang sering kali terjadi
konflik itu justru mereka yang belajar
di sekolah-sekolah faviorit? Melihat kenyataan yang demikian maka sangat perlu
sekali foktor-faktor apa yang menjadi pemicu terjadi konflik antar pelajar ini.
Dimana faktor ini sangaterat sekali kaitannya dengan pendidikan moral atau
pendidikan akhlak.
Ada beberapa hal
yang menjadi faktor tawuran antar pelajar antara lain :
a.
Krisis moral
Krisis moral
menjadi faktor yang paling mendominasi terjadi konflik, hal ini karena moral
yang akan membentuk keperibadian seseorang bagaimana seharusnya mereka
berprilaku, bertindak dan bersikap, dan hal itu semua dipelaajari dalam
pendidikan moral, karena moral adalah salah hal yang sangat krusial maka hal
ini harus disadari oleh semua para pengajar untuk menggalakkan pendidikan moral
ini, begitu pula dengan pendidikan agama, karena kedalaman pendidikan agama
seseorang juga akan mempengaruhi perilaku dan moral seseorang. Dan ketika kita
melihat yang sering kali terjadi konfli adalah para pelajar yang belajar di
bangku-bangku yang mewah atau di sekolah-sekolah favorit maka kita
mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterapkandi lembaga tersebut sangatlah
kurang perhatiannya dalam pendidikan moral apalagi pendidikan agama.
Pendidikan agama tidak boleh dipandang sebelah mata saja oleh
pemerintah sehingga yaitu dengan memepersempit waktu belajar agama, padahal
kita tahu bahwa pendidikan agama juga sangat penting untuk menyukseskan
cita-cita dan tujuan pendidikan di negara kita yaitu menciptakan manusia yang
cerdas dan beradab. Apakah pendidikan bisa di katakan sukses sesuai undang-undang
jika kenyataanya ternyata demikian, memang secara intlektual mungkin pendidikan
ng ada di indonesia bisa ditakan sukses namun secara moral pendidikan yang
justru sangatlah tidak adil untuk apa kemampuan intelektual tinggi jika hal itu
hanya menjadi sarana untuk merusakan negara kita sendiri. Oleh karena maka
pendidikan moral dan pendidikan agama sangatlah penting untuk menjadi perhatian
pemerintah, karena jika tidak para maka suatu hari nanti para pelajar atau
siswa akan menjadi musuh pemerintah
sendiri secara khusus dan kita semua pada umumnya.
Dan apabila gejolak ini kita lihat
dari perspektif agama, maka kita akan mendapatkat pada pendapat yang sama bahwa berbagai krisis yang menimpa
bangsa kita , sesungguhnya berakar dari krisis moral (moral).
Krisis akhlak bukanlah hal yang
sepele. Tetapi ia sangat berbahaya dan megancam eksistensi kit sebagai umat dan
bengsa. Krisis akhlak lebih berbahaya dibandingkan dengan krisis energi,
listrik , pangan , dan berbagai krisis lainnya.[8]
Dan ketika kita menuleh pada sejarah diutusnya nabi muhammad saw kedunia tidak
lain adalah hanya untuk menyempurnakan
akhlak manusia. Maka dalam ajaran islam pendidikan akhlak sangatlah digalakkan
terutama dipesantren-pesanren yang ada di dunia terutama indonesia.
Kekuatan bangsa sangat dipengarhi
oleh kekuatan akhlak. Sejarawan Arnold Toynbe, dalam risetnya, membuktikan kebenaran
tesis ini. Ia pernah, meneliti lebih
dari 21 peradaban yang hebat di dunia
ternyata, diketahui 19 dari 21 peradaban ini itu musnah (runuh). Ia runtuh
bukan karena penaklukan dari luar, meleinkan melalui kerusakan moral dari
dalam. Maka, krisis akhlak harus dicegah dengan melakukan perbaikan akhlak
bangsa. Secara teori perbaikan alkhlak dapat dilakukan dengan beberapa usaha. Pertama,
menumbuhkan kometmen etis, yaitupemihakan yang kuat pada beberapa kebenaran
dan kebaikan. “surga dipagari oleh hal-hal yang susah, sedangkan neraka dihiasi
oleh kesenangan-kesenangan”.
Kedua, berlatih dan melakukan
pembiasaan diri pada akhlak yang baik. Al-ghazali, menyebutnya dengan istilah
al-takhalluq. Dalam bahasa modern, takhalluq brmakna membangun kebiasaan
(habit) dan watak (karakter) yang baik. Dan proses takhalluq membutuhkan waktu
dan disiplin yang ketat.[9]
b.
Krisis nurani
Selain krisis moral yang
menjadi pemicu terjadinya tawuran dan beberapa konflik yang terjadi, krisis
nurani adalah juga merupakan salah dari bagian pemicu terjadi konflik. Krisis
nurani erat kaitannya dengan pendidikan agama seseorang, dimana pendidikan
agama ikut andil dalam membentuk nurani seseorang. Kelunakan hati seseorang
perlu dilatih sedini mungkin, sehingga ketika terjadi masalah bukanlah
kekuatannya yang akan dipergunakan utuk menyelesaikan konflik atau masalah yang
dihadapinya, sebagaimana binantang. Melainkan dengan akalnya sebai kelebihan
dan keunikan manusia. Keadaan mental yang demikian Sebagaimana ibnu khaldun
menyebutkan keadaan mental ini sebagai bentuk dari animal powe. Bentuk manusia namun cara
menyelesaikan konflik sepeti hewan. Yaitu menggunakan kekuatan dan cakar .[10]
Kita sudah mengalami krisis narani
sebagai manusia. Suatu keadaan mental yang haya mengetahui cara menyingkirkan
dan membunuh orang lain tatkala konflik muncul.[11]
keadaan yang demikian sudah menjadi kelumrahan dalam hidup kita, cara
menyesaikan konflik dengan otot sudah sangat sering kita saksasikan hal ini
yang menurut ibnu kaldun cara manusia menyesaikan konflik seperti binatang.
Padahal allah telah mengangrahi manusia dengan nurani, kalbu, dan akal sehat,
agar manusia itu berbeda dari hewan. Agar manusia bisa bisa menciptakan
perdamaian dan keselamatan.[12]
Konflik antar siswa selain menjadi
salah satu bukti kegagalan dari pendidikan kita, pendidikan juga gagal
menanamkan kenuranian pada segenap siswa. Tawuran merupakan gambaran bahwa
siswa yang terlibat dalam tawuran tersbut tidak memiliki hati nurani. Itu
artinya kurangnya perhatian guru pada siswanya mengenai pendidikan agama atau
pendidikan moral.
Keadaan sudah sangat kritis ini,
semangkin diperparah oleh pemerintah dengan pengurangi waktu belajar agama.
Apakah pemerintah tidak menyadari kalau bentrok antar siswa bukalah karena
mereka tidak berpendidikan, tetapi justru karena kepinteran mereka yang sudah
keterlaluan, sehingga mereka tidak memiliki moral dan hati norani. Pemrintah
dan kita semua harus tanggap mengenai masalah yang seperti ini. Sehingga
kedepannya fenomina yang serupa tidak terjadi lagi.
Memang teori yang digunakan dalam
makalah ini adalah teori konflik yang mana dalam teori konflik menyebutkan
bahwa konflik adalah keadaan yang alamiyah yang pasti akan terjadi dalam
kehidupan manusia, sehingga konflik sangat dubutuhkan sekali demi memperkuat
identitas kelompok atau dalam istilah yang sering digunakan oleh siswa adalah
geng.
Dalam
hal ini Coserpun sebagai tokoh konflik juga berpendapat bahwa konflik itu tidak
hanya berwajah negatif. Konflik memliki fungsi positif terhadap masyarakat
melalui perubahan-perubaha sosial yang diakibatkannya.[13]
Pendapat yang demikian memang didasarkan pada fakta yang menujukan bahwa banyak
kasus sejarah, sesungguhnya penyatuan
(dari sistem sosial ) dipengaruhi oleh faktor posistif konflik.[14]
Tetapi konflik yang terjadi antar para pelajar itu wajar dan bisa memperkokoh
kelompoknya atau gengnya? Terus untuk apa mereka belajar ilmu jika ada akhirnya
ilmu yang diperoleh digunakan untuk merusak, mengahancurkan bahkan mmbunuh. Apa
yang diharapkan oleh siswa yang melakukan tawuran selain hanya untuk merusak,
mengambil hak orang lain dan lain sebagainya. Karena saya kira tawuran antar
siswa merupakan tawuran yang sifatnya nonrealistis sebagai mana yang dikatakan
oleh coser , yaitu konflik yang didorong oleh kinginan yang tidak rasional dan
cendrung bersifat ideologis atau konflik dijadikan cara untuk menciptakan
ketegangan atau mempertegas identitas kelompok, dan cara ini mewujudkan kekejian.[15]
c.
Ketidakhadiran kelola konflik
Selain karena krisis nurani yang membuat manusia bermental animal
poewr, ketidak hadiran tata kelola
konflik dalam sistem sosial menyebabkan berbagai konflik menggelinding liar
menjadi destruktif tanpa kendali.[16]
Tata kelola konflik ini sangatlah
penting demi menghindari dari konflik yang sering kali hanya berkonotasi
desruktif. Diharapkan dengan tata kelola konflik yang baik konflik tidak
berkonotasi negatif tetapi hal yang sangat dibutuhkan untuk meningkat kualitas
belajar, tetapi faktanya hingga kini negara kita belum begitu peka dengan
masalah ini, maka sering kali tata kelola koflik ini tidak diperdulikan bahkan
diabaikan.
Negara kita ini belum memiliki tata kelola konfli bagi
masyarakatnya yang faktanya rentan sekali terjadi
konflik. Tata kelola konflik ini diabaikan oleh negara sebagai unsusr penting
dalam pembangnan perdamaian. Suatu peratuaran perundangan pengelolaan konflik
sebagai fonadasi legal menciptakan sistem tata kelola konflik masih bukan
merupakan prioritas negara. Sebaliknya, petundangan yang tidak bersubtansi bagi
bangsa, hasil lobi –lobi pasar, dan tidak memiliki nilai keadilan sosial
menjadi prioritas.[17]
Daftar pustaka
Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih
bahsa oleh Tim Yasogama, jakarta : rajawali pers, 2010, hal. 107.
Ken Plummer, “Sosiologi
The Besics” (jakarta : rajawali pers, 2011), hal. 46
http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/08/mepi3r-krisis-moral.
Novri Susan, MA, “ sosiologi koflik isu-isu konflik
kontemporer”, (jakarta : kencana, 2009), cet. Ke-1, hal. 197
[1]
. http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
[2]
.Ibid
[3].
http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan#DEFINISI_PENDIDIKAN
[4]
. Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih bahsa oleh Tim
Yasogama, jakarta : rajawali pers, 2010, hal. 107.
[6]
. ibid.
[7]
.. Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, alih bahsa oleh Tim
Yasogama, ( jakarta : rajawali pers, 2010), hal. 107.
[8]
.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/08/mepi3r-krisis-moral.
[9]
. ibid.
[10]
.Novri Susan, MA, “ sosiologi koflik isu-isu konflik kontemporer”, (jakarta
: kencana, 2009), cet. Ke-1, hal. 197
[11]
.ibid.
[12]
. ibid.
[13]
. ibid, hal. 53-54
[14]
. Ibid, hal. 54
[15]
. ibid, hal. 55
[16].
Ibid, hal. 198
[17]
.ibid,